Laman

Jumat, 26 Januari 2018

Porto, Portugal 2016

Pada tanggal 25 Mei 2015 dimana adalah sehari setelah ulang tahunku, aku merencanakan untuk pergi solo menuju Porto dari Copenhagen menggunakan pesawat promo "RA" seharga 229 dkk. Aku berangkat dari Copenhagen dari jam 21.25 dan sampai di Porto pada jam 23.50. Aku telah membooking 4 bed mixed room dengan harga 32 Euro untuk 2 malam di hostel "Garden House Hostel" dimana sangat bersih, dapat free breakfast, dan pelayananan yang ramah (recommended) yang terletak di tengah-tengah kota melalui hostelworld. Dari airport menuju hostel dengan tidak banyaknya transportasi umum lainnya, terpaksa menggunakan taksi yang sempat mengecohku untuk memutari jalan dan aku membayar 50 euro. 

Porto, Portugal 2016

Sesampainya di hostel, mereka menyarankanku untuk menuju klub malam dikarenakan pada saat itu adalah liburan nasional dan waktu check in mulai jam 6 pagi. Aku pun menitipkan tas di hostel dan bergegas menuju tempat yang disarankan hostel dan berjalan seorang diri mencari tempat tersebut. Aku melihat 3 orang gadis baru turun dari mobil yang telah diparkir, dan aku menanyakan alamat tersebut. Mereka pun mengajakku untuk ikut dengan mereka berhubung mereka pun berencana untuk pergi ke daerah tersebut untuk party. Aku pun mengikuti mereka dan mengobrol bersama mereka menuju tempat tersebut. Sesampainya disana, mereka mengenalkanku ke teman cewek lainnya yang ternyata masih mahasiswa dan disana terdapat banyak mahasiswa erasmus. Kita pun pergi ke banyak tempat party di daerah tersebut dengan gratis entrance karena mengikuti mereka. Oke, singkat cerita aku cukup gila pada malam itu dan ended with someone. Keesokan paginya, aku segera menuju hostel dan beristirahat setelah party dimana aku berencana bangun kembali pada jam 12 siang. Aku pun bangun dan berjalan-jalan sendiri mengelilingi porto, dimulai dari daerah dekat stasiun tua, central dimana terdapat tulisan besar PORTO, market makanan dan berkeliling mengitari daerah sekitar pelabuhan. Pada waktu lunch sendirian di Restaurant bernama "Costa", tiba-tiba ada seseorang yang memperhatikanku terus-terusan. 

Makan bebek (lupa nama menunya) di Costa

Dan ketika aku berencana untuk membayar makanan, seorang waitress berkata bahwa seseorang telah membayarnya. Kemudian orang yang menatapku, datang menghampiriku dan berkata kalau dia sukarela membayar makananku dimana aku sempat menolak akan tetapi dia meyakiniku dengan mengenalkan dirinya. Setelah itu, kita berbicara dan dia memberiku ajakan untuk mengguideku berkeliling Porto. Dia mengajakku ke gereja terkenal yang terdapat catacomb di dalamnya, kemudian ke tempat library dimana terkenal dengan miripnya tangga yang menyerupai film "Harry Potter". 












Ketika itu, kita pun berpisah sementara dimana aku balik ke hostel untuk beristirahat dan berencana untuk makan malam bersama. Aku bertemu dengan seorang wanita solo travel di dalam satu kamar dan dia mengajakku untuk makan francensinha (makanan terkenal yang wajib dicoba) bersama di Cafe Santiago. Aku pun mengajak seseorang yang sebelumnya aku temui untuk ikut bersama-sama kesana. Kita bertiga pun bertemu dengan mengantri untuk bisa makan di cafe santiago yang terkenal dengan makanan tersebut. Setelah hampir setengah jam menunggu, kita pun mendapat panggilan untuk bisa makan dan aku mengambil menu dimana tanpa menggunakan bacon di dalamnya. Kita pun membeli munuman wine port yang terkenal di daerah porto. 

Francensinha di Cafe Santiago

Setelah itu, kita pulang dan aku mengajak teman sekamarku untuk berjumpa dengan teman cewek-cewek yang sempat aku temui di klub malam. Kita pun party bersama-sama mengunjungi banyak bar dan setelah kecapaia, aku pun pulang dengan teman sekamarku. 

Party bersama Cewek-Cewek

Keesokan harinya, aku dan teman sekamarku, berencana untuk mengikuti "free tour" yang diadakan tempat hostel jam 10 siang. Kita pun mengelilingi Porto lebih lengkap dengan cerita sejarah di dalamnya. Kemudian, aku berencana bertemu kembali dengan seseorang yang waktu itu aku temui dengan teman sekamarku untuk mengitari malam hari Porto setelah siang harinya aku menghabiskan waktu di pantai. Kita pergi menuju puncak Porto, jembatan yang disebut "Gustavo Eiffel" , dan diakhiri dengan karaoke bar untuk malam terakhir aku di Porto.



Brussels & Antwerp, Belgium 2014

Pada tanggal 23 Mei 2014, Hostmom mengantarkanku menuju stasiun Breda di Belanda untuk keberangkatanku menuju Brussels, Belgia menggunakan kereta dengan harga 15 Euro. Aku menginap di tempat salah seorang couchsurfing yang tinggal di Brussels. Sesampainya di stasiun Brussels, aku bertemu dengan seseorang bernama "Nin" untuk pertama kalinya dan bersama "Gita" (sahabat yang aku kenal sudah sangat lama semenjak di Indonesia *trip Malaysia, Singapura, dan Thailand), kita mengelilingi Brussels. Kita pergi ke tempat Everard t'Serclaes, dimana katanya kalau menyentuh tangannya akan membawa keberuntungan. 


Brussels, 2014

Kemudian kita pergi ke daerah Manekin piss dan memakan escargot terdekat di sekitar tempat tersebut. Setelah itu, "Gita" harus kerja dan kita berpisah sementara dimana "Nin" selanjutnya berkeliling denganku ke daerah sekitar taman. Kita bercerita mengenai kisah kita sebagai Au Pair. Host ku akan menjemputku setelah dia pulang kerja di daerah dekat toko Asia dan Nin pun mengantarkanku kesana dan kita pun pergi ke tempat Hostku tersebut.  Sesampainya di tempat Host, aku berencana untuk membuat rendang dan makan malam bersama-sama juga merayakan ulang tahunku dimana "Gita dan Pacarnya" akan menyusul kesana. Kita pun makan bersama-sama dan bermain game yang di punyai oleh Hostku di Brussels sampai malam dimana tanggal 24 Mei adalah ulang tahunku. 



Keesokan harinya, kita berencana untuk mengelilingi Brussels dimana ada Jazz Festival pada saat itu ditengah kota. "Gita dan Pacarnya" menjemputku dan "Nin" dengan mobil menuju ke tempat tersebut dan setelah itu kita pergi ke atomium dan makan malam bersama-sama dimana pacarnya "Gita" mentraktirku makan. 

Waffel dan Escargot

Kita berencana untuk besok pergi ke Antwerp tetapi "Nin" tidak bisa ikut dikarenakan dia harus kerja. "Gita dan Pacarnya" menjemputku kembali dan kita pergi bersama-sama ke Antwerp dan berjalan-jalan di sekitar Antwerp dan bertemu dengan orang Indonesia lainnya (temannya Gita). 

 
Antwerp, 2014


Tanpa disangka, "Pacarnya Gita" menawariku untuk mengantarkanku pulang ke Belanda bersama dengan teman "Gita" yang lain untuk turun di Utrecht. Aku pun balik ke tempat Hostfamku yang pada waktu itu mempunyai rumah di daerah "Loenersloot" dengan menggunakan 1 kali bus dari Utrecht.

Norway 2015


Pada liburan musim panas, pada tanggal 4-12th July 2015, aku pergi bersama Host Family menggunakan mobil dan kapal Ferry menuju Norway. Perjalanan cukup lama dan sesampainya di pelabuhan Kristiansand kita melanjutkan perjalanan menuju Arendal. Kita pun menginap di sebuah villa terpencil yang sangat jarang terdapat transportasi umum. Aku merencanakan sebelumnya, untuk pergi ke Oslo selama sehari setelah seminggu bersama mereka. Seminggu bersama Host Family, aku pun mempunyai waktu untuk mengitari pulau, dimana aku menggunakan aplikasi tinder untuk mencari orang yang bisa membawaku berkeliling daerah sekitar. Dipikir-pikir cukup berbahaya kalau menggunakan aplikasi tersebut tanpa memilih orang yang benar-benar ingin bertemu hanya untuk menemani berjalan-jalan sekitar, akan tetapi it WORKS!. Dimulai dengan seseorang yang akan menjemputku dari tempat terpencil yang aku tinggali. Dia menjemputku dengan mobil dan kita mengelilingi kota Arendal dan dia sempat menawarkan diri untuk mengantarkanku menuju bus stop untuk pergi ke Oslo. Aku mengelilingi Arendal, dengan lunch di restaurant tengah kota yang pada saat itu sangat cerah di siang hari.

Makanan Greece di Norway

Disana terdapat danau ditengah kota dan kapal-kapal pesiar. Keesokan harinya, kita pergi ke tempat perkemahan bernama "Hove", yang tadinya berencana berenang harus di cancel karena banyak ubur-ubur yang bisa menyengat dan angin pun sangat besar. Kita pun pergi menikmati cuaca dengan bersantai di atas rerumputan dengan strawberry dan minuman di dekat pantai.

Arendal, Norway 2015

Di hari lainnya, aku bertemu dengan seseorang yang bersedia untuk mengajakku ke tempat yang cukup indah didekat lautan dengan tebing-tebing yang cukup tinggi dengan menggunakan Jeep di dekat wilayah Arendal bernama Tromoy. Kita pun bercerita mengenai pengalaman-pengalaman traveling ke tempat-tempat yang pernah di kunjungi.




Selain itu, aku berkunjung di daerah sekitar Arendal, aku pun berkunjung ke Grimstad dengan seseorang yang menawarkan diri untuk menemani berjalan-jalan. Dipikir-pikir orang Norwegia itu  SUPER NICE! dimana mereka sopan dan sangat open minded. Aku pun mengitari daerah Grimstad mulai dari museum dan rumah-rumah sekitar yang bercatkan warna putih. 

 Grimstad, Norway

Grimstad terkenal dengan Henrik Ibsen yang ketika dia masih muda tinggal di kota ini. Setelah seminggu di daerah sekitar Arendal, aku pun dijemput dengan orang yang aku kenal yang berjanji akan mengantarkanku ke bus stop "nettbus". Waktu itu aku booking "nettbus", 2 hari sebelum keberangkatan melalui website dengan memesan youth ticket seharga 139 NOK. Keberangkatan pada tanggal 12-13th July 2015 jam 07.50 pagi sampai Oslo pada jam 11.45 pagi. Sesampainya di Oslo, aku mencari rumah couchsurfing yang telah menerima requestku untuk menginap. Mereka tinggal di daerah pusat kota dan berasal dari Italia, dimana aku mendapatkan sebuah kamar dengan sofa yang bisa aku tiduri. Aku membeli tiket transportasi untuk 48 jam perjalanan seharga 90 NOK untuk mengelilingi Oslo. Aku pun pergi mengunjungi banyak tempat menggunakan transportasi umum seperti ke daerah central, dekat station terdapat patung macan besar, Akershus Fortress, dan opera house. 


 
Oslo, Norway

Hostku mengajak dinner bareng untuk makan spaghetti bolognese bersama-sama, setelah itu salah seorang yang menghostku mengajakku untuk tour malam ke sebuah klub terkenal sekitar dan cukup mengantri untuk bisa masuk ke tempat tersebut. Sesampainya di dalam klub, aku pun menikmati musik live Jazz yang pada saat itu sedang panggung di klub tersebut.

 
Pertunjukkan Jazz Music

Keesokan pagi harinya, aku mengunjungi museum viking, 2 taman yang  terkenal di Oslo, tempat orang biasa bermain ski (berhubung musim panas pada saat itu jadi tidak bisa main ski) dan membeli souvenir. Aku pun makan siang di tempat makan asia dekat rumah host dengan harga nasi goreng yang cukup murah sekitar 9 euro termasuk minum. Pada malam harinya, host mengajakku dinner bersama dengan Lasagna buatannya. Keesokan harinya aku pun pergi ke Airport untuk trip menuju Praha dan Budapest.

Kamis, 25 Januari 2018

Malmo, Sweden 2015

Museum di Malmo, Sweden

Cerita dimulai ketika aku sedang kencan dengan seseorang bernama "J", dimana aku mengenalnya melalui aplikasi POF. Pada saat itu, dia sedang internship di perusahaan Microsoft di Denmark dan berasal dari Kanada. Akan tetapi dia tinggal di Denmark selama kurang lebih 6 bulan, kita bertemu 4 minggu terakhir sebelum dia meninggalkan Denmark. Aku sempat berpikir sebelumnya kalau kita hanya berteman, sampai tidak disangka dia berkata kalau kita selama ini sedang berkencan. Ketika saya masih tinggal di Naestved, dia mengajakku untuk pergi menggunakan kereta menuju Malmo, Sweden di hari libur. Kita bertemu di stasiun pagi hari dan pergi menggunakan kereta menuju Malmo, Sweden dari stasiun Copenhagen, Denmark. Sesampainya di Malmo, kita berkeliling kota menuju museum tanpa membayar tiket dengan tidak menyadarinya bahwa seharusnya kita membayar tiket masuk. Setelah itu, kita berjalan-jalan menuju taman dimana kita sempat mengambil foto bersama-sama menggunakan polaroid di cafe terdekat dan dia menyimpan salah satu foto tersebut.

Polaroid foto bersama dengan "J"

Ketika kita melewati jalan menuju pantai, dia pun tiba-tiba memberiku mawar merah yang dia petik dari halaman rumah orang. Aku sempat melarangnya, tetapi dia berkata, "We don't live here and we are only strangers in here". Kita pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hampir ke seluruh area dan makan siang di cafe ditengah lautan, sampai akhirnya kita pulang kembali menggunakan kereta. Jembatan terpanjang di eropa adalah jembatan perbatasan Denmark dan Sweden, disitu terdapat momen indah dimana terdapat perasaaan butterflies yang tidak bisa aku ungkapkan dan ternyata menjadi perpisahan terakhir. Perpisahan terakhir tersebut dikarenakan aku tidak bisa bersama dengan dia karena aku berencana untuk pergi menuju Norway keesokan harinya bersama Hostfam untuk waktu yang cukup lama.

Bersama dengan mawar yang dia petik






Rabu, 24 Januari 2018

Strasbourg, France, 2014

Strasbourg, France 2014

Sesampainya disana, kami menyimpan barang dan pergi menuju Prancis yang membutuhkan waktu setengah jam dari tempatnya. Kami pergi ke Strasbourg, Prancis yang merupakan perbatasan antara Jerman dan Prancis dimana dahulunya merupakan kota di Jerman. Strasbourg merupakan kota yang cukup mahal, dimana souvenir dan makanan disana sangat mahal disbandingkan dengan Jerman. Kota Strasbourg cukup menarik terdapat Notre Dame yang bangunan arsiteknya identik dengan Jerman dikarenakan pada jaman kerajaan Ludwig bangunan itu dibangun, kemudian terdapat kanal kecil di dekatnya yang cukup menarik. Bangunan-bangunan kuno masih banyak dipertahankan di kota tersebut. Setelah puas berkeliling dari Strasbourg kita melanjutkan pulang dengan berbelanja untuk makan malam dengan nasi goreng buatanku yang “T” sukai. 










Selasa, 23 Januari 2018

Ibiza, Spain, 2014

Party bersama teman "Couchsurfing"

Pada Tanggal 7 April adalah pertama kalinya aku pergi ke Ibiza, Spanyol dengan hostfam menggunakan pesawat "RA" dari Eindhoven. Pesawat ini murah akan tetapi tidak terlalu nyaman. Mereka mempunyai rumah di Ibiza yang letaknya di kota tua Ibiza dan tepat di depan pelabuhan. Di bulan April ini, aku dan hostfam berada di Ibiza sampai tanggal 18 April. Di Ibiza, host family mencoba untuk hire cleaning lady yang berasal dari Argentina dan aku membagi kerja dengannya dikarenakan rumah yang cukup besar. Di waktu kosong aku sempatkan diri untuk mencoba berkeliling di sekitar. Tempat pertama yang aku kunjungi dengan berjalan kaki adalah Dalt Vila dimana merupakan bangunan lama yang pemandangannya terlihat menakjubkan dari atas dan terdapat bangunan bersejarah pada jaman Portugis.

Dalt Villa Ibiza, Spain 2014

Ibiza merupakan suatu pulau kecil yang merupakan bagian dari negara Spanyol. Pulau ini terkenal untuk party dimana banyak artis-artis ternama sedunia yang tampil hampir tiap minggu. Ibiza juga bukan hanya kota untuk party, disana pun terdapat sejarah dengan pemandangan alam yang cukup menarik. Di saat aku tidak bekerja, muncullah ide untuk mengunjungi salah satu pantai yang bernama Talamanca. Perjalanan dengan berjalan kaki dari rumah hostfam menuju pantai tersebut memakan waktu sekitar 25 menit. Aku melewati taman dengan tempat fitness outdoor gratis yang bisa digunakan untuk umum. Selama di Ibiza, aku belum mendapatkan teman baru dan cukup sulit untuk mencari teman, akan tetapi aku mencoba untuk bisa berkeliling disekitar rumah. Setelah cukup hampir lama di Ibiza, aku menemukan teman melalui event couchsurfing dan group Au Pair Facebook di Ibiza. Aku pun mengunjungi banyak tempat dari pantai tersembunyi dan klub-klub malam. Untuk ke klub malam sekitar daerah Ibiza kita bisa menggunakan bis  dan pada waktu itu bis malam sangat jarang dan terpaksa aku harus jalan kaki bersama teman untuk pulang menuju Old Town Ibiza.

Lunch di dekat Talamanca melihat pemandangan Dalt Villa

Amsterdam, Belanda, 2014

Zaandam, Belanda

Pada hari libur pertama kali, hostmom mengantarku ke Amsterdam, supaya aku dapat explore Amsterdam sendirian. Kubuka google maps dari handphone dan berjalan kaki menuju Leidseplein dari Hoofddorp dimana hostmom menurunkanku. Kemudian, aku mendapat ide untuk posting di couchsurfing grup Amsterdam yang kemungkinan bisa mengajakku keliling Amsterdam. Ketika menunggu orang yang akan bertemu di depan “Pathe Leidsedplein”, aku berkenalan dengan mahasiswa berketurunan darah Cina yang sedang duduk di sampingku dan kita bertukar facebook. Tak lama setelah itu, datanglah CSer pertama dari Amsterdam. Awal pertama melihatnya, aku tidak yakin dengan orang ini dan nampak seperti keturunan Maroko. Lelaki ini bergaya aneh dengan penampilan kusam dan tidak pandai berkata-kata alias terbata-bata dalam berbicara. Dia tiba-tiba saja mengajakku berbelanja di AH untuk menikmati taman dengan wine. Setelah berbelanja kita melewati butik di daerah Leidseplein, dan dia bilang itu adalah butik terkenal. Aku sempat heran seperti dibodohi olehnya dan dia menanyakanku untuk berfoto di dalam butik itu. "Waiiiit, What???!!!! Are you Seriousss?! Oh, please get me away from this man!," pikirku dalam hati. Kemudian sebelum ke taman dia mengajakku ke rumahnya untuk Jacuzzi bareng. "NOO Way!! cowok ini semakin menakutkan akan tetapi aku masih bingung mengapa dia mempunyai good references di profilnya," di dalam hati aku membatin. Akhirnya, kutolak ajakan dia dan berpisah di daerah dekat toko jualan yang banyak tanaman dan keju. Kemudian aku lanjutkan berjalan-jalan dengan mencari cara menuju tempat yang terkenal “Red Light District” dan memberanikan diri untuk bertanya jalan menuju “Chinatown” dikarenakan aku malu untuk bertanya tempat itu. Ternyata, sebelum aku menemukan “Chinatown” akhirnya aku menemukan tempat yang aku cari. “Red Light District” merupakan tempat pelacuran dimana terdapat banyak wanita berpakaian dalam seksi tua maupun muda yang bertebaran seperti di kaca aquarium besar. Disekitarnya banyak tempat yang berbau sex. 


Sex Museum, Amsterdam & Alkmaar, Belanda

Setelah mengitari Red Light District,” aku berjalan menuju “Chinatown,” kemudian aku bertemu dengan seorang nenek yang berasal dari Indonesia dan sudah tinggal lama di Belanda. Beliau menceritakan kehidupannya dimana dahulu kala dia dibawa dari Indonesia untuk bekerja di Belanda dan sekarang beliau hampir lupa dengan bahasa Indonesia. Dikarenakan handphoneku low battery, beliau membantuku bertanya pada 2 orang wanita yang duduk bersebelahan dengan kita untuk mencari tempat charge handphone gratis. Nenek itu akhirnya bisa membujuk 2 orang wanita untuk mengantarku ke tempat “Coffee Company” dekat daerah itu. Sesampainya disana, aku tidak perlu memesan apapun dan bisa menggunakan wifi juga charge handphone gratis. Kucoba kembali untuk memeriksa jawaban posting yang aku buat di grup. Aku sempatkan kembali untuk bertemu dengan CSer di depan coffee company dan kemudian kita pergi ke restoran Thailand. Lelaki ini berkata bahwa dia keturunan Amerika Latin dan menanyakan, “Are you single?," kemudian aku menjawabnya dengan tegas, “I’m not available.” Kulihat wajahnya yang mengekerut setelah aku jawab pertanyaannya. Setelah makan, kita pulang berjalan kaki menuju “Central Station,” dan dia membantuku membeli tiket dengan kartu bank nya. Aku mengucapkan selamat tinggal dan terimakasih sebelum berpisah dengan dia. Aku beranikan diri kembali untuk bertemu CSer ketiga, kali ini dia orang belanda asli bernama "Wies" dengan badan yang tinggi sekali hampir 2 meter dan ternyata masih muda 1 tahun dariku. Dia mengajakku berkeliling Amsterdam dan berkunjung ke pertunjukkan “The Amsterdam Dungeon,” dimana tiket masuknya itu mahal. Aku pikir pertunjukan itu akan menegangkan akan tetapi bisa dibilang sungguh membosankan disana. Setelah itu, kita lanjutkan untuk pergi ke Zaandam dan Alkmaar. Kita berbelanja di Zaandam karena ada suatu butik cukup murah berinisial “P” yang kemudian dilanjut dengan berkeliling dan berfoto. Setelah dari Zaandam kami menuju Alkmaar dengan menggunakan kereta. Alkmaar ternyata merupakan tempat tinggal “Wies,” disana terdapat biskuit terkenal yang cukup lumayan enak, kami berjalan dan berfoto di dekat gereja yang bangunanya cukup kuno dan ke tempat yang cukup tidak membosankan. Beruntungnya aku, CSer yang ketiga ini cukup menyenangkan dan tidak membosankan. Kemudian dia mengantarku pulang sampai stasiun di Holendrecht walaupun dia harus pulang kembali ke Alkmaar. Aku pun berpikir untuk keep in contact dengannya karena dia terlihat baik dan tidak membosankan. Temanku yang pernah bertemu di Bandung bernama "Yuni" memasukkanku ke dalam grup whatsapp au pair Amsterdam. Aku menyempatkan waktu luang untuk bertemu teman sesama au pair pertama kalinya bernama "Nita" dan bertemu di depan stasiun central Amsterdam. Kita berkeliling menuju vondelpark, leidsedplein, prinsengracht, dam square, vihara di daerah Chinatown, kemudian dia mengajakku untuk menginap di rumah hostfamnya dengan berjalan kaki untuk menghemat uang. 
Au pair kedua yang aku temui bernama "Manda" dan kita berkeliling ke Amstelveen dimana terdapat restoran makanan sushi Jepang di belakang stasiun dimana tempat dan para pegawainya merupakan orang asli Jepang. Setelah itu, kita berencana ke Haarlem dan aku mempunyai ide untuk mengajak "Wies" untuk bertemu dan menemani kita berkeliling Haarlem. Haarlem cukup bagus, dimana pada waktu itu terdapat bangunan dan patung historikal, kami pun pergi ke dalam suatu museum gratis yang terdapat lukisan didekat gereja kuno. Aku tidak sengaja untuk merencanakan bertemu teman lama dari Belanda yang pernah aku temui di Bandung setahun lalu pada program AIESEC. Aku mendatangi tempat tinggal "Josi" dan pacarnya setelah jalan-jalan berkeliling Rijks Museum pada waktu libur. Aku pun mulai merencanakan perjalanan menuju Jerman untuk bulan April. Aku berharap untuk bertemu dengan lelaki yang berasal dari Jerman bernama "Tobi" yang sempat tinggal bersama denganku selama seminggu di Bandung dan kami pun berhubungan sangat dekat setelah itu dan dia menyempatkan waktu selama seminggu untuk menemaniku dalam mengurus VISA ke Belanda. Hostfamku membantuku membeli tiket bis ke Jerman dengan menggunakan kartu banknya sebagai hadiah liburanku. Di waktu kosongku, aku mencoba iseng lewat chatting dengan stranger di salah satu website dan akhirnya aku putuskan untuk bertemu dengannya. Pada saat itu, aku sedang bertemu dengan au pair yang bernama "Anisya" yang adalah aupair teman baik dari hostfamku. Aku dan "Anisya" bertemu stranger yang aku kenal lewat chatting tersebut bernama "Daan" di daerah Leidseplein selanjutnya kita pergi menuju tempat makan Italia yang menurut "Anisya" tempatnya murah dan makanannya cukup enak. "Daan" mentraktir semua makananku dan kita berpisah dengan "Anisya". Aku dan "Daan" pergi menuju museum modern art Stedelijk, dimana dia memaksaku untuk tidak membayar tiket yang seharga 15 euro alias dia yang bayar. Tempat itu cukup membuatku ngantuk dan bosan karena aku tidak banyak mengerti mengenai seni. Setelah dari museum, kita berkeliling taman dan berpamitan untuk pulang rumah karena sudah malam.


Rembrandtplein

Bavaria, Germany, 2014

Pada tanggal 21 April merupakan liburan pertama yang aku ambil untuk pergi ke Jerman selama seminggu. Aku menggunakan bis Eurolines yang telah aku pesan pada bulan sebelumnya dengan harga 49 Euro sekali jalan dimana cukup mahal dikarenakan liburan easter day. Sebelum 2 hari keberangkatan aku mencari cara untuk menginap di Amsterdam dengan menggunakan Couchsurfing karena tidak akan ada bis yang datang ke daerah tempat aku tinggal di pagi hari. Akhirnya aku mendapatkan 1 orang yang mau menerimaku menginap walaupun yang lainnya menolak karena hari itu merupakan hari libur panjang untuk berlibur. Orang tersebut bernama "Just", dia berumur 25 tahun dan pernah traveling di Indonesia dan kita bertemu di depan stasiun dekat studionya. Kami pun berbincang-bincang di studio kecilnya yang hanya ada 1 ruangan menyatu dengan dapur dan 1 kamar tidur medium size beserta 1 kamar mandi. Setelah kita berbincang-bincang kemudian dia mengajakku untuk berkeliling Amsterdam dimana tempat tersebut belum pernah aku kunjungi sebelumnya. “Just” mengajakku ke tempat gereja tersembunyi yang terletak di dalam rumah kuno dan aku baru mengetahui bahwa perahu yang aku kira adalah perahu biasa ternyata adalah rumah yang dihuni. Kami pun balik menuju apartemennya kemudian waktu sudah larut malam dan aku tidur di couch yang dia punya. Keesokan harinya aku hampir telat bangun dan mengucapkan terimakasih pada “Just” kemudian berjalan kaki menuju stasiun untuk mengejar kereta dikarenakan transportasi pada hari libur cukup sulit. Aku pun keep in contact dengan “T”, karena dia akan menjemputku di terminal Stuttgart. Sesampainya di Stuttgart, membutuhkan waktu 30 menit untuk menunggu dijemput dan karena sudah hampir 2 bulan tidak bertemu, rasa cemas pun datang. Tak lama kemudian, aku melihat mobil berwarna merah datang dan berhenti. Aku mendengar suara seperti memanggil namaku dan mencoba untuk parkir, kemudian aku hampiri mobil tersebut dan ternyata, memang benar dia adalah  “T” rasanya sangat gembira sekali bisa bertemu kembali. Kami pun berpelukan dan berkecup bibir kemudian dia membawa barangku ke dalam mobilnya. “T” mengajakku ke tempat makan cepat saji terdekat dikarenakan aku butuh ke toilet dengan cepat dan membeli sedikit snack disana. Kami berbincang-bincang sebentar di sana dan karena aku lelah kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua “T”. Sekilas balik mengenai “T” hubungan yang kami punya cukup dekat dan selama di Indonesia kami seperti layaknya orang pacaran yang romantis dan masih berhubungan intens layaknya orang pacaran. Tobi berasal dari Jerman, postur badannya cukup kekar, berumur 26 tahun, gym addict, ganteng, putih, berambut coklat, bermata abu-abu kehijauan, tinggi, dan dia mempunyai saudara kembar. Selama di Bandung dia tinggal bersamaku serta adik dan kedua orangtuaku. Sebelum berpisah ke Belanda, kami sempat menangis karena tidak ingin berpisah di depan jalan raya sehabis jalan-jalan di Jakarta. Sesampainya di rumah orangtuanya, dia mengenalkanku dengan kedua orangtuanya dan saudara kembarnya yang sangat mirip dengannya. Orangtua dan saudara kembarnya mengajakku berbincang-bincang dan menanyakan asalku, bagaimana kita bertemu, dan sebagainya dengan ramah.


Bersama dengan "T"

Keesokan paginya, kami berangkat jam 9 pagi menuju Heidelberg yang memakan waktu perjalanan selama 30-45 jam dari rumahnya. Sesampainya di Heidelberg, kami berjalan kaki mencari arah menuju bangunan kuno kastil terkenal disana. Kami melewati kereta yang terdapat dibawah tanah dengan bendungan diatasnya. Di perjalanan, kami pun melewati kebun yang kemudian dilanjut dengan banyaknya tangga bukit menuju kastil. Sesampainya di kastil, kami berfoto-foto dan menikmati pemandangan alam yang indah dan terdapat kolam ikan yang terdapat berudu di dalamnya. Setelah puas mengelilingi kastil sampai sore hari, kami pun pulang menuju rumah. 

Heidelberg, Germany

Sesampainya di rumah kami berencana untuk pergi ke Munchen keesokan harinya dengan menginap di hotel yang telah dia pesan yang cukup mahal dimana permalamnya 120 euro dan kemudian kami pun beristirahat lebih awal supaya bisa bangun pagi. Perjalanan di Munchen membutuhkan waktu selama hampir 3 setengah jam dari Stuttgart dikarenakan macet. Sesampainya di Munchen, kami pergi menuju ke hotel “Inn” yang cukup standar kualitasnya akan tetapi mahal untuk menyimpan barang sebentar kemudian pergi ke bangunan kuno terdekat yang arsiteknya cukup menakjubkan dan terdapat bangunan dengan ornamen patung diatasnya yang bergerak setiap jam tertentu. Kami melanjutkan makan di restoran Jepang all you can eat yang cukup murah  sekali dan enak di daerah tersebut dengan 3 kali ronde makan. Setelah puas berkeliling di daerah tersebut, kami melanjutkan pergi menuju museum BMW, stadium Olympic yang cukup dekat dari museum BMW dengan berjalan kaki, dan menuju alianz arena dimana merupakan tempat latihannya klub bola terkenal “Munich” (bahasa Inggrisnya Munchen). Setelah seharian berjalan-jalan di sekitar Munchen, kami pun mencari makan kebab karena entah mengapa aku sangat suka sekali dengan kebab dan kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok pagi pergi ke Stuttgart. “T” lupa membawa kunci apartemennya di Konstanz yang awalnya kita berencana untuk ke Switzerland, berubah rencana menjadi pergi ke Strasbourg dan menginap di rumah orangtuanya kembali. 



Kita berencana untuk pergi menuju Schloss Neuschwanstein besok dengan perjalanan yang akan memakan waktu selama 3 setengah jam perjalanan. Keberangkatan pada jam 8 pagi menuju Schloss Neuschwanstein melewati romantic road dan makan siang di tempat restoran siap saji terdekat karena makanan di restoran cukup jauh dari tempat yang ingin kita tuju. Di perjalanan kami melihat pemandangan yang indah dimana terlihat gunung besar yang tertutupi salju, air sungai biru yang sangat jernih dengan padang rumput dan bunga yang bermekaran. Sesampainya kita parkir di dekat tanda bertuliskan Schwangau dan berjalan menuju ke tempat pembelian tiket. Antrian tiket sangat panjang dengan tiket harga normal 12 euro dan untuk pelajar bisa mendapatkan diskon 1 euro. Kami berjalan kaki menuju tempat pemberhentian bis yang datang tiap setengah jam sekali, dimana waktu kunjung Schloss Neuschwanstein di tiket kami adalah jam 16.45. Setelah datangnya bis, orang pun berdesak-desakkan untuk bisa duduk di bis, yang perjalanannya memakan waktu sekitar 20 menitan. Sesampainya disana, kami mesti berjalan kaki panjang menuju kastil di samping itu kita bisa melihat kastil lain yang dekat dengan Schloss Neuschwanstein. Di depan Schloss Neuschwanstein, kami pun mengantri kembali dan dibuka sesuai jam yang tertera pada tiket. Di dalam Schloss Neuschwanstein, aku memilih bahasa Inggris pada alat yang akan menjelaskan sejarah bangunan tersebut. Setelah selesai berkeliling, kami pun pulang menuju rumah orangtua “T” dan makan malam dengan sup buatannya khas Jerman yang cukup enak. “T” telah berjanji untuk membelikanku tiket kereta pulang besok menuju Utrecht Central yang paling murah pada saat itu adalah 121,40 euro dengan 4 kali pemberhentian. Keesokan pagi harinya, “T” mengantarku menuju stasiun pada tanggal 26 April 2014, dimana jam keberangkatan kereta adalah jam 10.05. Kami berbincang-bincang sebentar dikarenakan kereta yang delay hampir 1 jam yang membuatku dan penumpang lain cukup tegang dan kesal untuk mengejar kereta selanjutnya. Akhirnya, kereta pun datang dan aku mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya dengan “T”.



Schloss Neuschwanstein