Zaandam, Belanda
Pada hari libur pertama kali, hostmom mengantarku ke Amsterdam, supaya aku dapat explore Amsterdam sendirian. Kubuka google maps dari handphone dan berjalan kaki menuju Leidseplein dari Hoofddorp dimana hostmom menurunkanku. Kemudian, aku mendapat ide untuk posting di couchsurfing grup Amsterdam yang kemungkinan bisa mengajakku keliling Amsterdam. Ketika menunggu orang yang akan bertemu di depan “Pathe Leidsedplein”, aku berkenalan dengan mahasiswa berketurunan darah Cina yang sedang duduk di sampingku dan kita bertukar facebook. Tak lama setelah itu, datanglah CSer pertama dari Amsterdam. Awal pertama melihatnya, aku tidak yakin dengan orang ini dan nampak seperti keturunan Maroko. Lelaki ini bergaya aneh dengan penampilan kusam dan tidak pandai berkata-kata alias terbata-bata dalam berbicara. Dia tiba-tiba saja mengajakku berbelanja di AH untuk menikmati taman dengan wine. Setelah berbelanja kita melewati butik di daerah Leidseplein, dan dia bilang itu adalah butik terkenal. Aku sempat heran seperti dibodohi olehnya dan dia menanyakanku untuk berfoto di dalam butik itu. "Waiiiit, What???!!!! Are you Seriousss?! Oh, please get me away from this man!," pikirku dalam hati. Kemudian sebelum ke taman dia mengajakku ke rumahnya untuk Jacuzzi bareng. "NOO Way!! cowok ini semakin menakutkan akan tetapi aku masih bingung mengapa dia mempunyai good references di profilnya," di dalam hati aku membatin. Akhirnya, kutolak ajakan dia dan berpisah di daerah dekat toko jualan yang banyak tanaman dan keju. Kemudian aku lanjutkan berjalan-jalan dengan mencari cara menuju tempat yang terkenal “Red Light District” dan memberanikan diri untuk bertanya jalan menuju “Chinatown” dikarenakan aku malu untuk bertanya tempat itu. Ternyata, sebelum aku menemukan “Chinatown” akhirnya aku menemukan tempat yang aku cari. “Red Light District” merupakan tempat pelacuran dimana terdapat banyak wanita berpakaian dalam seksi tua maupun muda yang bertebaran seperti di kaca aquarium besar. Disekitarnya banyak tempat yang berbau sex.
Sex Museum, Amsterdam & Alkmaar, Belanda
Setelah mengitari “Red Light District,” aku berjalan menuju “Chinatown,” kemudian aku bertemu dengan seorang nenek yang berasal dari Indonesia dan sudah tinggal lama di Belanda. Beliau menceritakan kehidupannya dimana dahulu kala dia dibawa dari Indonesia untuk bekerja di Belanda dan sekarang beliau hampir lupa dengan bahasa Indonesia. Dikarenakan handphoneku low battery, beliau membantuku bertanya pada 2 orang wanita yang duduk bersebelahan dengan kita untuk mencari tempat charge handphone gratis. Nenek itu akhirnya bisa membujuk 2 orang wanita untuk mengantarku ke tempat “Coffee Company” dekat daerah itu. Sesampainya disana, aku tidak perlu memesan apapun dan bisa menggunakan wifi juga charge handphone gratis. Kucoba kembali untuk memeriksa jawaban posting yang aku buat di grup. Aku sempatkan kembali untuk bertemu dengan CSer di depan coffee company dan kemudian kita pergi ke restoran Thailand. Lelaki ini berkata bahwa dia keturunan Amerika Latin dan menanyakan, “Are you single?," kemudian aku menjawabnya dengan tegas, “I’m not available.” Kulihat wajahnya yang mengekerut setelah aku jawab pertanyaannya. Setelah makan, kita pulang berjalan kaki menuju “Central Station,” dan dia membantuku membeli tiket dengan kartu bank nya. Aku mengucapkan selamat tinggal dan terimakasih sebelum berpisah dengan dia. Aku beranikan diri kembali untuk bertemu CSer ketiga, kali ini dia orang belanda asli bernama "Wies" dengan badan yang tinggi sekali hampir 2 meter dan ternyata masih muda 1 tahun dariku. Dia mengajakku berkeliling Amsterdam dan berkunjung ke pertunjukkan “The Amsterdam Dungeon,” dimana tiket masuknya itu mahal. Aku pikir pertunjukan itu akan menegangkan akan tetapi bisa dibilang sungguh membosankan disana. Setelah itu, kita lanjutkan untuk pergi ke Zaandam dan Alkmaar. Kita berbelanja di Zaandam karena ada suatu butik cukup murah berinisial “P” yang kemudian dilanjut dengan berkeliling dan berfoto. Setelah dari Zaandam kami menuju Alkmaar dengan menggunakan kereta. Alkmaar ternyata merupakan tempat tinggal “Wies,” disana terdapat biskuit terkenal yang cukup lumayan enak, kami berjalan dan berfoto di dekat gereja yang bangunanya cukup kuno dan ke tempat yang cukup tidak membosankan. Beruntungnya aku, CSer yang ketiga ini cukup menyenangkan dan tidak membosankan. Kemudian dia mengantarku pulang sampai stasiun di Holendrecht walaupun dia harus pulang kembali ke Alkmaar. Aku pun berpikir untuk keep in contact dengannya karena dia terlihat baik dan tidak membosankan. Temanku yang pernah bertemu di Bandung bernama "Yuni" memasukkanku ke dalam grup whatsapp au pair Amsterdam. Aku menyempatkan waktu luang untuk bertemu teman sesama au pair pertama kalinya bernama "Nita" dan bertemu di depan stasiun central Amsterdam. Kita berkeliling menuju vondelpark, leidsedplein, prinsengracht, dam square, vihara di daerah Chinatown, kemudian dia mengajakku untuk menginap di rumah hostfamnya dengan berjalan kaki untuk menghemat uang.
Au pair kedua yang aku temui bernama "Manda" dan kita berkeliling ke Amstelveen dimana terdapat restoran makanan sushi Jepang di belakang stasiun dimana tempat dan para pegawainya merupakan orang asli Jepang. Setelah itu, kita berencana ke Haarlem dan aku mempunyai ide untuk mengajak "Wies" untuk bertemu dan menemani kita berkeliling Haarlem. Haarlem cukup bagus, dimana pada waktu itu terdapat bangunan dan patung historikal, kami pun pergi ke dalam suatu museum gratis yang terdapat lukisan didekat gereja kuno. Aku tidak sengaja untuk merencanakan bertemu teman lama dari Belanda yang pernah aku temui di Bandung setahun lalu pada program AIESEC. Aku mendatangi tempat tinggal "Josi" dan pacarnya setelah jalan-jalan berkeliling Rijks Museum pada waktu libur. Aku pun mulai merencanakan perjalanan menuju Jerman untuk bulan April. Aku berharap untuk bertemu dengan lelaki yang berasal dari Jerman bernama "Tobi" yang sempat tinggal bersama denganku selama seminggu di Bandung dan kami pun berhubungan sangat dekat setelah itu dan dia menyempatkan waktu selama seminggu untuk menemaniku dalam mengurus VISA ke Belanda. Hostfamku membantuku membeli tiket bis ke Jerman dengan menggunakan kartu banknya sebagai hadiah liburanku. Di waktu kosongku, aku mencoba iseng lewat chatting dengan stranger di salah satu website dan akhirnya aku putuskan untuk bertemu dengannya. Pada saat itu, aku sedang bertemu dengan au pair yang bernama "Anisya" yang adalah aupair teman baik dari hostfamku. Aku dan "Anisya" bertemu stranger yang aku kenal lewat chatting tersebut bernama "Daan" di daerah Leidseplein selanjutnya kita pergi menuju tempat makan Italia yang menurut "Anisya" tempatnya murah dan makanannya cukup enak. "Daan" mentraktir semua makananku dan kita berpisah dengan "Anisya". Aku dan "Daan" pergi menuju museum modern art Stedelijk, dimana dia memaksaku untuk tidak membayar tiket yang seharga 15 euro alias dia yang bayar. Tempat itu cukup membuatku ngantuk dan bosan karena aku tidak banyak mengerti mengenai seni. Setelah dari museum, kita berkeliling taman dan berpamitan untuk pulang rumah karena sudah malam.
Rembrandtplein




Tidak ada komentar:
Posting Komentar