Pada tanggal 21 April merupakan liburan pertama yang aku ambil untuk pergi ke Jerman selama seminggu. Aku menggunakan bis Eurolines yang telah aku pesan pada bulan sebelumnya dengan harga 49 Euro sekali jalan dimana cukup mahal dikarenakan liburan easter day. Sebelum 2 hari keberangkatan aku mencari cara untuk menginap di Amsterdam dengan menggunakan Couchsurfing karena tidak akan ada bis yang datang ke daerah tempat aku tinggal di pagi hari. Akhirnya aku mendapatkan 1 orang yang mau menerimaku menginap walaupun yang lainnya menolak karena hari itu merupakan hari libur panjang untuk berlibur. Orang tersebut bernama "Just", dia berumur 25 tahun dan pernah traveling di Indonesia dan kita bertemu di depan stasiun dekat studionya. Kami pun berbincang-bincang di studio kecilnya yang hanya ada 1 ruangan menyatu dengan dapur dan 1 kamar tidur medium size beserta 1 kamar mandi. Setelah kita berbincang-bincang kemudian dia mengajakku untuk berkeliling Amsterdam dimana tempat tersebut belum pernah aku kunjungi sebelumnya. “Just” mengajakku ke tempat gereja tersembunyi yang terletak di dalam rumah kuno dan aku baru mengetahui bahwa perahu yang aku kira adalah perahu biasa ternyata adalah rumah yang dihuni. Kami pun balik menuju apartemennya kemudian waktu sudah larut malam dan aku tidur di couch yang dia punya. Keesokan harinya aku hampir telat bangun dan mengucapkan terimakasih pada “Just” kemudian berjalan kaki menuju stasiun untuk mengejar kereta dikarenakan transportasi pada hari libur cukup sulit. Aku pun keep in contact dengan “T”, karena dia akan menjemputku di terminal Stuttgart. Sesampainya di Stuttgart, membutuhkan waktu 30 menit untuk menunggu dijemput dan karena sudah hampir 2 bulan tidak bertemu, rasa cemas pun datang. Tak lama kemudian, aku melihat mobil berwarna merah datang dan berhenti. Aku mendengar suara seperti memanggil namaku dan mencoba untuk parkir, kemudian aku hampiri mobil tersebut dan ternyata, memang benar dia adalah “T” rasanya sangat gembira sekali bisa bertemu kembali. Kami pun berpelukan dan berkecup bibir kemudian dia membawa barangku ke dalam mobilnya. “T” mengajakku ke tempat makan cepat saji terdekat dikarenakan aku butuh ke toilet dengan cepat dan membeli sedikit snack disana. Kami berbincang-bincang sebentar di sana dan karena aku lelah kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua “T”. Sekilas balik mengenai “T” hubungan yang kami punya cukup dekat dan selama di Indonesia kami seperti layaknya orang pacaran yang romantis dan masih berhubungan intens layaknya orang pacaran. Tobi berasal dari Jerman, postur badannya cukup kekar, berumur 26 tahun, gym addict, ganteng, putih, berambut coklat, bermata abu-abu kehijauan, tinggi, dan dia mempunyai saudara kembar. Selama di Bandung dia tinggal bersamaku serta adik dan kedua orangtuaku. Sebelum berpisah ke Belanda, kami sempat menangis karena tidak ingin berpisah di depan jalan raya sehabis jalan-jalan di Jakarta. Sesampainya di rumah orangtuanya, dia mengenalkanku dengan kedua orangtuanya dan saudara kembarnya yang sangat mirip dengannya. Orangtua dan saudara kembarnya mengajakku berbincang-bincang dan menanyakan asalku, bagaimana kita bertemu, dan sebagainya dengan ramah.
Bersama dengan "T"
Keesokan paginya, kami berangkat jam 9 pagi menuju Heidelberg yang memakan waktu perjalanan selama 30-45 jam dari rumahnya. Sesampainya di Heidelberg, kami berjalan kaki mencari arah menuju bangunan kuno kastil terkenal disana. Kami melewati kereta yang terdapat dibawah tanah dengan bendungan diatasnya. Di perjalanan, kami pun melewati kebun yang kemudian dilanjut dengan banyaknya tangga bukit menuju kastil. Sesampainya di kastil, kami berfoto-foto dan menikmati pemandangan alam yang indah dan terdapat kolam ikan yang terdapat berudu di dalamnya. Setelah puas mengelilingi kastil sampai sore hari, kami pun pulang menuju rumah.
Sesampainya di rumah kami berencana untuk pergi ke Munchen keesokan harinya dengan menginap di hotel yang telah dia pesan yang cukup mahal dimana permalamnya 120 euro dan kemudian kami pun beristirahat lebih awal supaya bisa bangun pagi. Perjalanan di Munchen membutuhkan waktu selama hampir 3 setengah jam dari Stuttgart dikarenakan macet. Sesampainya di Munchen, kami pergi menuju ke hotel “Inn” yang cukup standar kualitasnya akan tetapi mahal untuk menyimpan barang sebentar kemudian pergi ke bangunan kuno terdekat yang arsiteknya cukup menakjubkan dan terdapat bangunan dengan ornamen patung diatasnya yang bergerak setiap jam tertentu. Kami melanjutkan makan di restoran Jepang all you can eat yang cukup murah sekali dan enak di daerah tersebut dengan 3 kali ronde makan. Setelah puas berkeliling di daerah tersebut, kami melanjutkan pergi menuju museum BMW, stadium Olympic yang cukup dekat dari museum BMW dengan berjalan kaki, dan menuju alianz arena dimana merupakan tempat latihannya klub bola terkenal “Munich” (bahasa Inggrisnya Munchen). Setelah seharian berjalan-jalan di sekitar Munchen, kami pun mencari makan kebab karena entah mengapa aku sangat suka sekali dengan kebab dan kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok pagi pergi ke Stuttgart. “T” lupa membawa kunci apartemennya di Konstanz yang awalnya kita berencana untuk ke Switzerland, berubah rencana menjadi pergi ke Strasbourg dan menginap di rumah orangtuanya kembali.
Kita berencana untuk pergi menuju Schloss Neuschwanstein besok dengan perjalanan yang akan memakan waktu selama 3 setengah jam perjalanan. Keberangkatan pada jam 8 pagi menuju Schloss Neuschwanstein melewati romantic road dan makan siang di tempat restoran siap saji terdekat karena makanan di restoran cukup jauh dari tempat yang ingin kita tuju. Di perjalanan kami melihat pemandangan yang indah dimana terlihat gunung besar yang tertutupi salju, air sungai biru yang sangat jernih dengan padang rumput dan bunga yang bermekaran. Sesampainya kita parkir di dekat tanda bertuliskan Schwangau dan berjalan menuju ke tempat pembelian tiket. Antrian tiket sangat panjang dengan tiket harga normal 12 euro dan untuk pelajar bisa mendapatkan diskon 1 euro. Kami berjalan kaki menuju tempat pemberhentian bis yang datang tiap setengah jam sekali, dimana waktu kunjung Schloss Neuschwanstein di tiket kami adalah jam 16.45. Setelah datangnya bis, orang pun berdesak-desakkan untuk bisa duduk di bis, yang perjalanannya memakan waktu sekitar 20 menitan. Sesampainya disana, kami mesti berjalan kaki panjang menuju kastil di samping itu kita bisa melihat kastil lain yang dekat dengan Schloss Neuschwanstein. Di depan Schloss Neuschwanstein, kami pun mengantri kembali dan dibuka sesuai jam yang tertera pada tiket. Di dalam Schloss Neuschwanstein, aku memilih bahasa Inggris pada alat yang akan menjelaskan sejarah bangunan tersebut. Setelah selesai berkeliling, kami pun pulang menuju rumah orangtua “T” dan makan malam dengan sup buatannya khas Jerman yang cukup enak. “T” telah berjanji untuk membelikanku tiket kereta pulang besok menuju Utrecht Central yang paling murah pada saat itu adalah 121,40 euro dengan 4 kali pemberhentian. Keesokan pagi harinya, “T” mengantarku menuju stasiun pada tanggal 26 April 2014, dimana jam keberangkatan kereta adalah jam 10.05. Kami berbincang-bincang sebentar dikarenakan kereta yang delay hampir 1 jam yang membuatku dan penumpang lain cukup tegang dan kesal untuk mengejar kereta selanjutnya. Akhirnya, kereta pun datang dan aku mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya dengan “T”.
Heidelberg, Germany
Sesampainya di rumah kami berencana untuk pergi ke Munchen keesokan harinya dengan menginap di hotel yang telah dia pesan yang cukup mahal dimana permalamnya 120 euro dan kemudian kami pun beristirahat lebih awal supaya bisa bangun pagi. Perjalanan di Munchen membutuhkan waktu selama hampir 3 setengah jam dari Stuttgart dikarenakan macet. Sesampainya di Munchen, kami pergi menuju ke hotel “Inn” yang cukup standar kualitasnya akan tetapi mahal untuk menyimpan barang sebentar kemudian pergi ke bangunan kuno terdekat yang arsiteknya cukup menakjubkan dan terdapat bangunan dengan ornamen patung diatasnya yang bergerak setiap jam tertentu. Kami melanjutkan makan di restoran Jepang all you can eat yang cukup murah sekali dan enak di daerah tersebut dengan 3 kali ronde makan. Setelah puas berkeliling di daerah tersebut, kami melanjutkan pergi menuju museum BMW, stadium Olympic yang cukup dekat dari museum BMW dengan berjalan kaki, dan menuju alianz arena dimana merupakan tempat latihannya klub bola terkenal “Munich” (bahasa Inggrisnya Munchen). Setelah seharian berjalan-jalan di sekitar Munchen, kami pun mencari makan kebab karena entah mengapa aku sangat suka sekali dengan kebab dan kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok pagi pergi ke Stuttgart. “T” lupa membawa kunci apartemennya di Konstanz yang awalnya kita berencana untuk ke Switzerland, berubah rencana menjadi pergi ke Strasbourg dan menginap di rumah orangtuanya kembali.
Schloss Neuschwanstein

Tidak ada komentar:
Posting Komentar